top of page
Gambar Untuk Website 2-05.png

PUSPADI Bali percaya setiap tunadaksa memiliki potensi, dan mereka mampu mengembangkan serta menunjukan kemampuannya kepada orang-orang di sekitarnya. Berikut merupakan beberapa cerita inspiratif dari tunadaksa:

Sudarmanti

P1320379-FINAL-1024x683.jpg

Sudarmanti adalah seorang Aparatur Sipil Negara di Dinas Kesehatan Kota Denpasar sejak tahun 1997. Dia dinyatakan lumpuh pada usia 36 tahun setelah mengalami kecelakaan mobil di Bali pada tahun 2010. Kehidupannya pun berubah drastis. Dia memerlukan bantuan untuk hampir di segala kegiatan. Dia pun belajar untuk menjadi lebih mandiri seperti berpindah dari tempat tidur ke kursi rodanya. Dengan keadaan yang  seperti itu, dia sempat merasa letih dan tidak percaya diri. Namun, melihat suami dan kedua anaknya, dia merasa termotivasi dan ingin bangkit dari kondisinya. Setelah menerima sebuah kursi roda dari PUSPADI Bali, dia memutuskan untuk tetap menjalani hidup dengan lebih baik dan penuh rasa syukur. Dia ingin mewujudkan mimpi bersama keluarganya, dan melihat anak-anaknya tumbuh dewasa dan sukses.

Dia pun merasa senang bahwa dia masih bisa bekerja dan mengurus keluarganya. Dia juga masih bisa menjalankan profesinya dengan baik dan kompeten. Bersama PUSPADI Bali, Ibu Sudarmanti sedang berusaha agar pemerintah membuat kebijakan dan peraturan ketenagakerjaan sehingga tunadaksa bisa memperoleh peluang untuk bekerja di sektor negeri dan swasta. Dia juga berharap agar akses bagi tunadaksa lebih dibenahi dan ditingkatkan sehingga mereka bisa menikmati fasilitas yang sama dengan orang normal pada umumnya. Semangat Ibu Sudarmanti ini pun mengispirasi banyak orang bahwa keterbatasan fisik bukan berarti sepenuhnya ketidakmampuan, tapi itu semua ada pada tekad, semangat, dan disiplin dalam menjalankan kehidupan yang penuh anugerah ini.

Jefrianus Rangga Dao

P1140475-4-e1491018422982-769x1024.jpg

Jefrianus Rangga Dao dari Malaka, kehilangan kakinya dalam sebuah kecelakaan sepeda motor di tahun 2010. Setelah kecelakaannya, Jefrianus 27 tahun tidak melanjutkan pekerjaannya memahat, yang membuatnya merasa tak berdaya. Belum, ketika dia menerima kaki palsunya dan menjadi bagian program soft and hard skill training di PUSPADI Bali. Selain itu, semangatnya kembali pulih setelah dibayar bekerja membersihkan kantor Jan’s Tours di Denpasar.

Janice Mantjika menjalankan Jan’s Tours dan menjadi salah satu pengawas di PUSPADI Bali. Dia percaya mempekerjakan Jefrianus bisa membuka mata timnya dan yang bekerja di industri pariwisata tentang beberapa kemampuan pekerja tunadaksa. “Dia adalah best cleaner yang pernah kami punya, dan pekerjaan ini membantunya membangun kepercayaan diri dan tentu saja menambah uang di dompetnya,” ujar Ibu Jan Mantjika. “Mempekerjakan seorang penyandang disabilitas memperlihatkan kepada organisasi lain bahwa mereka mempunyai kemampuan dan saya mencari pebisnis lokal untuk mempertimbangkan inklusi dan aksesibilitas di tempat kerja mereka’’. “Kami juga ingin lebih banyak mempekerjakan orang-orang karena kemampuan dan tidak mendiskriminasi, tentu saja ini hal yang normal tanpa pengecualian”.

Logo Crop 2.png
bottom of page